Jumat, 19 November 2010

Flu Burung Ditemukan Kembali di Hongkong

Pemerintah Hongkong mengumumkan ditemukannya kasus flu burung pada manusia yang pertama dalam tujuh tahun terakhir ini. Hongkong juga telah meningkatkan status kewaspadaan flu burung menjadi level "serius" yang berarti berisiko tinggi menjadi penyakit fatal.



Kasus flu burung pada manusia terakhir kali ditemukan di Hongkong tahun 2003 setelah mewabah dan mengakibatkan enam orang meninggal pada tahun 1997. Wabah penyakit ini juga menyebabkan jutaan unggas dimusnahkan.

Kasus flu burung yang muncul kembali ini ditemukan pada wanita berusia 59 tahun setelah mengunjungi daratan China. Menurut hasil pemeriksaan, wanita tersebut positif influenza A (H5) atau strain baru flu burung setelah sebelumnya ia ke rumah sakit dengan keluhan demam dan batuk, kemudian didiagnosa pneumonia (radang paru). Kondisinya saat ini cukup parah meski sudah mendapat perawatan di rumah sakit.

Pejabat kesehatan setempat saat ini masih mencari tahu apakah ia terpapar virus tersebut di Hongkong atau ditempat lain, selain juga memonitor orang-orang yang telah melakukan kontak dengannya. Menurut keterangan, wanita tersebut bepergian ke daratan China antara tanggal 23 Oktober dan 1 November bersama dengan suami dan anaknya.

Sejauh ini memang belum ada tanda-tanda adanya penularan dari manusia ke manusia. Karena itu, Pemerintah Hongkong menyatakan akan berkonsentrasi pada unggas sebagai media penularan.

"Kami berkonsentrasi pada unggas sebagai asal penularan pertama. Namun, kami juga menganalisa orang-orang yang telah melakukan kontak dengan penderita ketika ia di Hongkong dan telah menunjukkan gejala," kata pejabat kesehatan York Chow.

1,6 Juta Perempuan Berisiko Terinfeksi HIV1,6 Juta Perempuan Berisiko Terinfeksi HIV

Sekitar 1,6 juta perempuan berisiko terinfeksi HIV lantaran menikah atau berhubungan seksual dengan laki-laki berisiko tinggi. Penularan HIV lewat hubungan heteroseksual saat ini paling sulit dikendalikan.



Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi mengatakan di Jakarta, Senin (15/11/2010), berdasarkan pemodelan dari KPAN, laki-laki berisiko tinggi merupakan laki-laki pelanggan atau pembeli seks—jumlahnya sekitar 3,1 juta—dan 230.000 pengguna narkoba jarum suntik yang juga kemungkinan membeli seks. Pria berisiko tinggi karena melakukan aktivitas seksual tidak aman (tanpa kondom) dan kemudian menularkan HIV kepada pihak lain.

Menurut Nafsiah Mboi, masih amat sulit mengubah perilaku, termasuk membiasakan penggunaan kondom. ”Perempuan pekerja seks punya posisi tawar sangat rendah sehingga sulit memastikan pelanggannya memakai kondom. Apalagi ada iming-iming dibayar lebih banyak jika tanpa kondom,” kata Nafsiah.

Padahal, berdasarkan survei KPAN, pengetahuan laki-laki sebetulnya cukup tinggi tentang bahaya penularan penyakit dan manfaat penggunaan kondom. ”Kecuali di Jepang yang laki-lakinya terbiasa memakai kondom,” ujarnya.

Upaya penanggulangan HIV/AIDS di kalangan perempuan pekerja seks pun semakin tidak mudah karena pembubaran lokalisasi yang sepertinya bertujuan baik sebenarnya kontraproduktif dengan penanggulangan HIV/AIDS.

”Kebijakan yang menyatakan prostitusi sebagai maksiat dan pembubaran lokalisasi, misalnya, mengakibatkan pekerja seks komersial masuk populasi umum dan rumah-rumah penduduk sehingga sulit terjangkau program penanggulangan HIV dan tes kesehatan,” ujarnya. (INE)

Plasenta Bayi Jangan Langsung Dipotong

Para ahli kandungan dari Inggris menyerukan pada dokter dan bidan untuk tidak tergesa-gesa memotong tali pusat bayi yang baru dilahirkan. Tujuannya supaya lebih banyak sel punca (stem cell) dan nutrisi vital yang dialirkan dari tubuh ibu ke bayi.



Plasenta atau disebut juga tali pusat merupakan saluran suplai makanan dan antibodi dari ibu ke bayi selama di kandungan. Begitu bayi lahir, plasenta akan ikut dikeluarkan dan dipotong. Biasanya plasenta akan dipotong 30 detik hingga satu menit setelah proses persalinan.

Para ahli dari Inggris menyebutkan, ada banyak keuntungan yang diraih bayi jika dokter tidak terburu-buru memotong plasenta. "Dengan membiarkannya sesaat, makin banyak darah yang disalurkan ke bayi dan banyak 'hadiah' berharga yang dimiliki bayi karena transplantasi sel punca alami ini," kata Dr.Paul Sanberg dari Centre of Excellence for Ageing and Brain Repair.

Selama proses persalinan, plasenta dan tali pusat akan berkontraksi dan memompa darah ke bayi. Begitu darah telah mencapai keseimbangan, denyut tali pusat berhenti dan darah berhenti mengalir.

Bila dokter atau bidan menunda memotong tali pusat atau menunggu sampai denyutannya berhenti, maka bayi akan mendapatkan transfer darah secara utuh. Berbagai penelitian juga menunjukkan tindakan tersebut akan mencegah bayi menderita anemia.

"Darah dari tali pusat mengandung sel punca yang sangat berharga. Karenanya proses ini disebut juga sebagai transplantasi sel punca alamiah. Manfaat dan keunikan darah tali pusat, termasuk kemampuannya berdiferensiasi belum banyak diketahui," kata Sanberg.

Sanberg dan timnya menemukan bahwa menunda pemotongan plasenta paling tidak satu menit akan mengurangi risiko berbagai penyakit pada bayi, seperti pernapasan, penyakit paru kronik, anemia, gangguan mata, dan lain sebagainya. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Cellular and Molecular Medicine.

Banyak Keringat, Tanda Kelainan Jantung?

Sering, kita jumpai anak yang kepala atau telapak tangannya selalu berkeringat. Sampai-sampai si anak mengadu pada orang tuanya dengan kesal karena setiap kali menulis atau memegang sesuatu, telapak tangannya berkeringat. Habis dilap, keringat akan mengucur kembali.Bahkan, ada anak yang tetap berkeringat meski berada di ruangan ber-AC.



Nah, kebanyakan orang tua lantas menjadi cemas, "Jangan-jangan anak saya terkena penyakit jantung." Bukankah salah satu gejala penyakit jantung adalah penderita mengeluarkan banyak keringat?

Disertai gejala lain

Memang, seperti diakui Dr. Najib Advani, Sp.AK, MMed. Paed.,  keluarnya banyak keringat bisa merupakan gejala penyakit kronis, seperti TBC, Malaria, atau gagal jantung. "Tapi jangan dibalik, lo. Bukan banyak keringat yang mengakibatkan penyakit jantung, misalnya," tukas spesialis anak Konsultan Ahli Jantung Anak Bagian Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini.

Keluarnya banyak keringat juga bisa ditemukan pada anak yang memang punya kecenderungan untuk alergi (atopi). Selain itu, tumor pada kelenjar adrenalin juga bisa menyebabkan banyaknya keringat yang keluar. "Tapi ini biasanya disertai dengan gelisah dan tekanan darah tinggi," tutur Najib. Anak dengan obesitas juga sering banyak mengeluarkan keringat, "karena lapisan lemaknya tebal, sehingga ia merasa panas terus," lanjutnya.

Penghentian pemakaian obat-obat tertentu, seperti obat penenang, juga bisa membuat anak berkeringat. "Kalau pemberian obat dihentikan, anak jadi gelisah. Akibatnya, keringat bercucuran." Kondisi lain, karena hipoglikemi (kadar gula darah dalam tubuh menurun), kondisi hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), kekurangan vitamin B6, atau karena intoksikasi (keracunan) salisilat. "Salisilat adalah salah satu obat penurun panas. Jika dosis yang diberikan berlebih akan membuat anak banyak berkeringat."

Dengan demikian, kita patut curiga bila si kecil mengeluarkan banyak keringat disertai gejala-gejala lain, atau sebelumnya tak pernah berkeringat dan tiba-tiba di usia 2 tahun ia mengeluarkan banyak keringat dibarengi gejala-gejala lain.

Misalnya, anak banyak berkeringat dibarengi sesak napas, mungkin merupakan penyakit jantung. Atau, bayi yang enggak kuat menyusu; saat menyusu sebentar-sebentar berhenti dan berkeringat. "Kita harus curiga dan segera membawanya ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut," tukas Najib.

Kondisi yang normal

Itu sebabnya para orangtua jangan keburu cemas dulu, apalagi sampai panik bila si kecil mengeluarkan banyak keringat. Kalau memang tak ada gejala lain yang menyertainya, berarti banyaknya keringat yang dikeluarkan merupakan kondisi normal yang sering dijumpai pada anak. Terlebih lagi, kata Najib, pada kebanyakan kasus, banyaknya keringat yang keluar bukan lantaran penyakit atau kelainan tertentu. "Bisa saja memang bawaan anak begitu, sejak bayi memang sudah banyak atau gampang berkeringat."

Ada beberapa kondisi yang bisa membuat anak banyak berkeringat. Diantaranya, emosi. Misalnya, stres. "Ini bisa menyebabkan keringat yang keluar bertambah." terang Najib. Kondisi lain, mungkin pakaian yang dikenakannya terlalu tebal. Apalagi bila gerakan-gerakan fisiknya juga bisa membuat ia gampang berkeringat. "Anak yang sedang demam atau baru sembuh dari demam pun akan mudah berkeringat," tambah Najib.

Disamping itu, suhu lingkungan yang tinggi. Bukankah jika suhu lingkungan tinggi, maka suhu tubuh pun akan terpengaruh? Sehingga, secara mekanisme alamiah, keluarlah keringat. Jadi, normal, kan? Justru dengan keluarnya keringat, suhu tubuh akan turun. Badan pun jadi dingin karena keringat yang keluar akan menguap dan mengambil panas dari kulit.

Makanan yang berbumbu, seperti lada atau cabe, juga akan semakin merangsang pengeluaran keringat. Enggak usah pada anak, kita saja yang dewasa jika mengkonsumsi makanan dengan kandungan lada atau cabe juga akan berkeringat lebih banyak dari biasanya. Iya, kan?

Yang perlu diperhatikan justru mengurangi faktor-faktor pencetus banyaknya pengeluaran keringat. Misalnya, kalau sudah tahu si anak lebih mudah berkeringat, ya, jangan memakaikan baju tebal-tebal di siang hari bolong. Apalagi saat anaknya sedang beraktivitas di luar rumah. "Sebaiknya gunakan bahan yang menyerap keringat." Kemudian, hindari makanan pencetus, seperti yang mengandung lada dan cabe.

Pada anak obesitas, dianjurkan untuk mengurangi berat badan atau paling tidak pertambahan berat badannya dikurangi. Misalnya, diet; banyak makan sayur dan buah-buahan, hindari makanan yang berlemak dan berkabohidrat tinggi. (Nakita/Hasto Prianggoro)

Jumat, 12 November 2010

Pasien Kanker dalam Bungkus Rokok

Wajah seorang pasien kanker yang terlihat kurus dan pucat dipilih oleh pemerintah federal Amerika Serikat sebagai salah satu gambar dalam kemasan rokok. Selain itu juga terseda gambar mulut yang terkena kanker serta grafis dampak merokok, seperti "merokok menyebabkan kanker", "rokok akan membunuh Anda,"  yang ditulis dalam huruf besar dan mencolok.



Grafis-grafis "menyeramkan" itu diharapkan bisa membuat para pecandu nikotin menghentikan kebiasaannya merokok. Grafis itu merupakan bagian dari kampanye terbaru yang diumumkan Food and Drug Administration dan Departemen Kesehatan dan Layanan Manusia untuk mengurangi jumlah perokok. Di negeri Paman Sam ini tiap tahunnya 443.000 orang meninggal karena rokok.

Saat ini sudah disiapkan 36 gambar "seram" untuk nantinya dipilih 9 gambar yang akan dipakai dalam kemasan rokok yang beredar di sana. Inisiatif pemerintah AS itu mengikuti kebijakan serupa yang sudah dilakukan di Australia, Kanada, Inggris, dan negara lainnya.

"Kami sengaja memilih gambar-gambar yang sebagian diantaranya tampak mengerikan karena persoalan kecanduan rokok ini adalah masalah yang sangat serius dan dampak kesehatan yang tidak remeh," kata Margaret Hamburg, FDA commisioner.

Kebijakan pengendalian tembakau di AS merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Pencegahan Merokok dalam Keluarga dan Pengendalian Tembakau yang ditandatangani Presiden Barack Obama tahun 2009 lalu. Dengan UU tersebut, FDA memiliki kewenangan untuk mengendalikan tembakau, termasuk pengaturan pemasaran dan pengemasan, pelarangan produk dan pembatasan kadar nikotin.

Kompas.com